Full width home advertisement

HEADLINE

Post Page Advertisement [Top]

AI Diprediksi Akan Konsumsi Listrik Lebih Besar dari Penambangan Bitcoin pada 2025


 Artificial Intelligence (AI) telah menjadi bagian integral dari kehidupan modern, mulai dari asisten virtual hingga sistem rekomendasi. Namun, di balik kemajuan ini, terdapat kekhawatiran yang berkembang mengenai dampak lingkungan dari konsumsi energi AI yang meningkat pesat. Studi terbaru menunjukkan bahwa konsumsi listrik AI dapat melampaui penambangan Bitcoin pada akhir tahun 2025.


Pertumbuhan Konsumsi Energi AI

Menurut penelitian oleh Alex de Vries dari Vrije Universiteit Amsterdam, AI diperkirakan akan mengonsumsi hingga 85–134 terawatt-jam (TWh) listrik per tahun pada 2027, setara dengan konsumsi listrik tahunan negara seperti Norwegia atau Swedia. Konsumsi ini sebagian besar disebabkan oleh pelatihan dan penggunaan model bahasa besar seperti ChatGPT, yang memerlukan daya komputasi tinggi.

Sebagai perbandingan, satu permintaan ke ChatGPT dapat mengonsumsi hampir sepuluh kali lebih banyak energi daripada pencarian Google biasa. Dengan meningkatnya adopsi AI di berbagai sektor, permintaan energi ini diperkirakan akan terus meningkat.


Perbandingan dengan Penambangan Bitcoin

Perbandingan dengan Penambangan Bitcoin

Sistem kecerdasan buatan (artificial intelligennce) canggih diramalkan bakal lebih boros listrik pada akhir 2025, bahkan melampaui aktivitas penambangan mata uang kripto seperti Bitcoin.


Penambangan Bitcoin telah lama dikenal sebagai aktivitas yang boros energi, dengan konsumsi listrik tahunan sekitar 112 TWh pada tahun 2023.
Namun, dengan pertumbuhan pesat AI, konsumsi energi AI diperkirakan akan melampaui penambangan Bitcoin dalam waktu dekat.

Studi oleh International Energy Agency (IEA) memperkirakan bahwa total konsumsi listrik pusat data, yang mencakup AI dan cryptocurrency, dapat mencapai lebih dari 1.000 TWh pada tahun 2026, dua kali lipat dari konsumsi pada tahun 2022. 


Dampak Lingkungan dan Tantangan

Selain konsumsi energi, AI juga memiliki jejak karbon yang signifikan. Pelatihan model AI besar dapat menghasilkan emisi karbon setara dengan ratusan penerbangan transatlantik. Selain itu, pusat data AI memerlukan pendinginan yang intensif, yang meningkatkan konsumsi air dan energi.

Fenomena "Jevons Paradox" juga menjadi perhatian, di mana peningkatan efisiensi teknologi justru dapat menyebabkan peningkatan total konsumsi energi karena peningkatan penggunaan. 


Langkah Menuju Keberlanjutan

Beberapa perusahaan teknologi besar, seperti Microsoft dan Google, telah mengakui tantangan ini dan berupaya mengurangi jejak karbon mereka. Namun, kurangnya transparansi dalam pelaporan konsumsi energi AI menjadi hambatan dalam upaya ini.

Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan:

  • Transparansi: Perusahaan harus melaporkan konsumsi energi dan emisi karbon dari operasi AI mereka.

  • Efisiensi Energi: Pengembangan model AI yang lebih efisien dan penggunaan perangkat keras hemat energi.

  • Sumber Energi Terbarukan: Mengalihkan operasi pusat data ke sumber energi terbarukan untuk mengurangi emisi karbon.


Kesimpulan
Konsumsi daya AI lebih besar dari penambang bitcoin

Meskipun AI menawarkan banyak manfaat, penting untuk mempertimbangkan dampak lingkungannya. Dengan pertumbuhan konsumsi energi yang pesat, AI berpotensi menjadi lebih boros energi daripada penambangan Bitcoin. Oleh karena itu, langkah-langkah proaktif diperlukan untuk memastikan bahwa perkembangan AI berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]