Full width home advertisement

HEADLINE

Post Page Advertisement [Top]



Minggu pagi yang seharusnya menjadi momentum penuh suka cita bagi warga Desa Sumberanyar, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, berubah menjadi mimpi buruk. Sebuah insiden tragis terjadi saat parade kelulusan santri Madrasah Uswatun Hasanah digelar pada tanggal 18 Mei 2025. Parade ini diiringi konvoi "sound horeg", fenomena hiburan rakyat yang sedang naik daun di banyak pelosok Pulau Jawa. Namun, tanpa disangka, tumpukan sound system raksasa yang dipasang di atas truk mendadak roboh dan menimpa penonton di belakangnya.

Korban, seorang remaja perempuan dan seorang bocah laki-laki, mengalami luka-luka serius. Suasana seketika berubah dari riuh penuh tawa menjadi panik dan isak tangis. Kejadian ini mengangkat kembali isu lama: seberapa amankah sound horeg? Apakah sudah saatnya hiburan ini diregulasi lebih ketat, atau justru budaya ini bisa berkembang secara aman dengan prosedur yang benar?

Artikel ini membahas secara mendalam tragedi tersebut dari berbagai aspek: kronologi, sejarah dan budaya sound horeg, kasus serupa, tanggapan masyarakat, serta solusi preventif demi keselamatan publik.

Kronologi Lengkap Kejadian

Kejadian tragis itu terjadi sekitar pukul 11.00 WIB, ketika rombongan kendaraan dengan tumpukan sound system yang menjulang tinggi melintas di jalan desa. Truk tersebut membawa perangkat audio dengan tinggi diperkirakan mencapai lima meter—lebih tinggi dari rata-rata kabel listrik dan cabang pepohonan di jalanan desa.

Saat kendaraan melaju perlahan, salah satu sisi atas tumpukan sound tersebut tersangkut pada dahan pohon besar. Dalam hitungan detik, keseimbangan terganggu dan beberapa box sound system jatuh ke belakang, tepat di atas penonton yang mengikuti parade.

Korban pertama, Nadia Friska (17), langsung roboh dan mengalami luka parah di bagian kepala. Ia dilarikan ke Puskesmas Jambesari Darusallah dan menerima tujuh jahitan. Korban kedua, Firmansyah (9), mengalami trauma dan nyeri di bahu akibat tertimpa box speaker.

Saksi mata menggambarkan kejadian ini sebagai "suara dentuman yang sangat keras disusul dengan teriakan orang-orang." Beberapa warga berusaha menolong dengan cepat, namun beratnya perangkat sound membuat proses evakuasi memakan waktu.

Kepolisian menyatakan bahwa parade ini tidak mengantongi izin resmi dan pihak panitia tidak memberikan pemberitahuan sebelumnya. Hal ini menjadi sorotan utama dalam investigasi lebih lanjut.



Apa Itu Sound Horeg?

Fenomena sound horeg telah menjadi bagian dari budaya kontemporer masyarakat pedesaan dan pinggiran kota, terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Nama "horeg" berasal dari kata "horor dan gregel", slang Jawa yang merujuk pada sensasi getaran audio dengan bass tinggi yang mengguncang tubuh.

Fenomena ini berkembang dari tradisi hajatan, perayaan kelulusan, hingga ajang unjuk kemampuan komunitas sound system. Dalam praktiknya, sound horeg menggunakan sistem audio berskala besar yang mampu menghasilkan getaran bass ekstrem—mirip suasana klub malam namun diselenggarakan di ruang publik.

Ciri Khas Sound Horeg:

  • Bass super keras (hingga 130 dB ke atas)

  • Visualisasi lampu strobo dan LED

  • Operator DJ dan MC lapangan

  • Kompetisi antar komunitas

  • Kegiatan di ruang terbuka (jalan desa, lapangan, gang sempit)

Banyak komunitas membentuk kelompok seperti Sound Lovers, Bass Community, hingga Horeg Mania, lengkap dengan branding dan akun media sosial. Namun di balik kemeriahannya, muncul kritik keras mengenai polusi suara, bahaya kelistrikan, hingga keselamatan konstruksi peralatan.

Kasus Serupa yang Mengguncang Publik

Tragedi di Bondowoso bukanlah yang pertama. Sejumlah kasus serupa pernah terjadi, di antaranya:

1. Malang, 2023

Seorang siswi SMP tewas tertabrak truk saat mengikuti parade sound horeg. Ia tak mendengar suara klakson karena bass terlalu keras. Orang tua korban menggugat panitia, namun kasus berhenti di mediasi adat.

2. Blitar, Ramadan 2024

Polisi mengamankan 5 pemuda yang membangunkan sahur dengan sound horeg berdaya tinggi. Warga protes karena menyebabkan bayi menangis dan lansia terkena serangan jantung ringan.

3. Pasuruan, 2024

Acara “Battle Sound” di pantai menuai kontroversi karena menimbulkan kerusakan ekosistem suara pada satwa laut. Laporan warga menyebut ikan dan udang mendadak mati di sekitar pantai.

4. Kendal, 2023

Box sound system jatuh saat diangkat ke atas truk karena overkapasitas dan tidak menggunakan tali pengaman. Dua kru luka berat dan harus operasi.


Analisis Keselamatan dan Ketiadaan Standar

Salah satu akar masalah dari tragedi Bondowoso adalah tidak adanya standar teknis untuk instalasi sound horeg. Tidak ada regulasi nasional atau daerah yang mengatur batas daya, tinggi maksimal pemasangan, atau syarat teknis kelistrikan.

Permasalahan Teknis Umum:

  • Tidak menggunakan helm dan rompi oleh kru

  • Tidak ada asuransi untuk penonton

  • Instalasi listrik dari genset tanpa grounding

  • Truk tidak dimodifikasi sesuai standar beban

  • Tidak ada SOP evakuasi

Beberapa komunitas besar telah mencoba menerapkan SOP sendiri, namun dalam banyak kasus lokal, panitia hanya "asal pasang" demi euforia.

Suara dari Warga dan Netizen

Insiden ini langsung viral di media sosial. Hashtag seperti #SoundHoreg, #TragediBondowoso, dan #KebodohanMassal sempat trending di TikTok dan Twitter.

Komentar Netizen:

  • “Bukan hiburan kalau bikin orang masuk rumah sakit.”

  • “Kok bisa dibiarkan tinggi segitu, di jalan desa pula.”

  • “Sound horeg tuh bukan tradisi, itu penyakit!”

Di sisi lain, beberapa pembela menyebut bahwa kejadian ini adalah kesalahan panitia, bukan budaya sound horeg itu sendiri.

Sosiolog Universitas Jember, Dr. Nur Hidayat, mengatakan bahwa sound horeg adalah ekspresi kebebasan dan kreativitas desa yang "tidak boleh dimatikan", tapi harus diatur dan diberi edukasi.


 Langkah Preventif dan Solusi

Untuk mencegah tragedi serupa, ada beberapa langkah yang bisa diambil oleh pemerintah dan komunitas:

Rekomendasi:

  1. Pembuatan Regulasi Teknis

    • Batas tinggi maksimal sound system

    • Standar daya listrik dan proteksi

  2. Wajib Izin Kepolisian dan Dishub

    • Setiap parade atau acara publik harus ada pemberitahuan resmi

  3. Pelatihan Safety untuk Operator

    • Setara seperti pelatihan K3 di dunia kerja

  4. Sertifikasi Komunitas Sound

    • Seperti SIM C untuk pengemudi, harus ada lisensi bagi kru pemasang

  5. Edukasi Publik

    • Melibatkan tokoh masyarakat, guru, dan pemuda

 Kesimpulan

Tragedi di Bondowoso membuka mata publik bahwa hiburan rakyat seperti sound horeg bisa berubah menjadi malapetaka bila tidak dikelola dengan bijak. Dalam upaya menjaga keseimbangan antara tradisi baru dan keselamatan publik, peran negara dan masyarakat harus selaras.

Sound horeg bukan sekadar hiburan, tapi juga ekspresi identitas. Namun, ketika euforia mengalahkan akal sehat, tragedi seperti ini tidak bisa dianggap sekadar “musibah”. Ia adalah sinyal kuat bahwa sudah saatnya kita bertindak: bukan melarang, tapi mengatur dan mendidik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]